Tenang, kharismatik, dan sederhana menjadi keseharian dari sosok putra ketujuh almarhum Drs H. La Ode Manarfa ini. Karenanya wajar jika kemudian Ia selalu diposisikan sebagai seorang tokoh di tengah-tengah masyarakat. Tabiat dan gelora semangat yang dimiliki Ayahandanya serta ‘Papi’ bagi segenap masyarakat Buton benar-benar terwarisi. Meski ia sendiri sadar, jika wibawa, kharismatik dan popularitas yang dimiliki almarhum H. La Ode Manarfa diakuinya sulit untuk ia miliki sepenuhnya. Tetapi nama baik keluarga besar La Ode Manarfa harus tetap terpelihara, sebagai bagian dari sejarah panjang negeri ini.
Pak Halaka, ia lebih sreg dengan panggilan singkat itu, meski sebagian besar orang menyebutnya dengan Pak Haji. “Tidak jadi masalah dengan nama, yang penting saya dan semua orang bisa berkomunikasi, bertukar pendapat, serta bisa berbagai tentang apa saja dengan semua orang, itu yang terpenting,” katanya singkat.
Lalu bagaimana perjalanan hidup seorang Halaka? Halaka kecil terlahir di Kota Makassar saat sibuk-sibuknya sang ayahanda mengemban tugas Negara ditahun 57-an. Masa kecilnya penuh warna. Ia masih ingat betul, saat itu berusia 4 tahun, Sulsel ketika itu masih zamannya ‘gerembolan’. “Mobil Papi pernah ditembaki gerombolan dan saya tetap berdiri didalam mobil, saya tidak paham kalau itu berbahaya, saya tetap berdiri, ha..ha..ha” kenangnya.
Hal lain yang menjadi kisah kanak-kanaknya, adalah kegemarannya memanjat. “Saya pernah panjat gedung gereja depan rumah tinggal Papi hingga di atap, yang beribadah di gereja tentu bubar karena ada anak-anak diatas atap. Saya pun tidak bisa turun, terpaksa ditolong dengan menggunakan tangga milik PLN”.
Halaka kemudian ‘sempat’ bersekolah di SD Mangkura Makassar, lalu SMP dan SMA ‘putar-putar’ antara Baubau-Kendari-Makassar-Bandung-Jakarta. Tentu karena sang ayahanda saat itu banyak bertugas di Makassar-dan Jakarta. Sementara di Bandung ia mengikuti sang kakak, La Ode Izat Manarfa.
Masa kecilnya juga sempat dicicipi selama kuranglebih 2 tahun di Kendari, saat itu La Ode Manarfa serumah dengan gubernur Wayong saat itu. “Disinilah saya kerap bermain dengan Kanda Amirul, kebetulan Paman Tamim (ayah Amirul Tamim) bertugas di Kendari juga. Dengan kanda Amirul saya sering main kelereng sama-sama”.
Tak pernah menetap, Halaka di pulangkan ke Baubau, tentunya untuk lebih mengenal daerahnya sendiri. Meski kemudian ke Jakarta lagi hingga tamat SMP. Masuk SMA, Halaka banyak bergaul dengan dunia luar. Menariknya, ia lebih suka bergaul dengan orang yang lebih dewasa darinya. Yang paling digemarinya justru menjadi penyiar radio. Media inilah yang mempertemukan Halaka dengan tokoh kritis Indonesia, Sri Bintang Pamungkas, termasuk istri pengusaha Pontjo Sutowo. Namanya Mbak Wini. “Tapi saat itu masih sama-sama menyiar di radio”.
Diakuinya, jika di Jakarta ia banyak bergaul dengan kalangan-kalangan ‘jetset’ saat itu. Namanya juga remaja. Lalu bagaimana pengawasan orang tua? “Jujur yang paling saya takuti justru Mami, saya paling takut sama beliau, sementara kalau dengan Papi, saya anggap teman, meski beliau sangat disiplin dengan sesuatu”.
Takut ‘salah jalan’ di Jakarta, Halaka dipulangkan oleh orang tuanya ke Baubau. Itu juga masih status pelajar SMA. Halaka sempat menolak, namun karena yang berbicara adalah sang Mami yang ditakutinya, ia terima. Dengan syarat, ia dibelikan radio pemancar AM. Permintaan disahuti. Maka berdirilah Radio Latalombo di Baubau saat itu. “Latalombo itu artinya, juru penerang” katanya.
Keberadaan radio ini lagi-lagi menjadi medium Halaka ‘merekrut’ berbagai kalangan, mulai anak polisi, anak tentara, anak pejabat, dan remaja dari berbagai profesi. “semuanya saya jadikan satu, pergaulan remaja saya meluas”.
Mendekati tamat SMA, Halaka sejak awal bercita-cita masuk ABRI, tapi Papi menolaknya, ia pun minta jadi Polisi, lagi-lagi Papi menolaknya. “Kamu itu punya bakat pemimpin, jadi jurusan kamu bukan disana” kata Almarhum La Ode Manarfa kala itu.
Keinginan kuat Halaka untuk menjadi prajurit TNI bukan tanpa dasar, semasa kecilnya ia sering melihat pistol Papi, bahkan ia juga pernah belajar menembak dari pak Mardianto. (Kini Menteri Dalam Negeri),”Waktu itu, kalau tidak salah beliau setingkat Komandan Yonif di Makassar. Bahkan saya terdorong dengan kharisma rekan saya. Namanya pak Mustofa (Kini Kapolda Maluku) mengispirasi saya masuk TNI-Polri, tapi apa boleh buat Papi melarang dengan alasan, bukan bakat dan wataknya”.
Singkat cerita, Halaka lulus di APDN, disini ia kembali bertemu kawan lamanya, Amirul Tamim. Banyak cerita semasa pendidikan tersebut. Selesai, kembali lagi ke Baubau, lalu kemudian masuk IIP Jakarta. Disini, ia kembali bertemu Amirul Tamim. “Beliau sempat memplonco saya karena beliau adalah kakak senior saya di kampus,” kenangnya.
Selesai dengan gelar doktorandus ilmu pemerintahan, Halaka kembali berkiprah sebagai PNS, hingga beberapa kali mendapat jabatan setingkat Kancam, Kasubag dan Kepala Seksi. “Tapi ada yang mengganjal, saya merasa ada pressing, sebab setiap saya menyelesaikan sesuatu, baru mau selesai, dipindahkan lagi, saya pikir ini ujian jadi birokrasi. Mau bertanya entah kemana, tapi naluri untuk membangun Buton sebagai sebuah negeri yang besar terus bergelora, saya ingin mundur sebagai PNS. Mungkin saya tidak cocok disana,” katanya.
Ditengah pencarian jati dirinya di tahun 1994, terlintas dibenaknya untuk menunaikan ibadah haji. Meski keluarga belum ada yang tahu rencana itu. Ia segera mendaftar dan menyetor biaya ONH, apalagi saat itu batas akhir pendaftaran. Mendengar hal itu, keluarga kaget bukan main. “Ada apa Halaka naik haji?, ada yang nangis, tapi intinya mereka terharu, mungkin saya saat itu dinilai orang yang tidak punya arah, bimbang dan sebagainya, padahal saya sudah punya anak-istri” katanya.
Sugesti ritual terus bergelora dibenaknya, dahaga rohani dalam tubuhnya, pun meminta air untuk disiram air ukhrawi. Maklum Halaka era 80-90-an memang dikenal tokoh ‘geng’ Baubau,. “Tapi kami tidak pernah buat onar, justru kalau ada yang macam-macam di negeri ini, kami yang mengingatkan” katanya.
Singkat cerita, Halaka pun ketanah suci. Ada satu sumpah yang tak lekang dalam ingatannya hingga saat ini. Bunyinya demikan; “Ya Allah, beri aku kekuatan dan kesehatan dalam memenuhi Panggilan-MU, kalau tidak! Cabut saja nyawa ini”.
“Sumpah ini, saya ikrarkan saat tiba di Bandara King Abdul Azis Jeddah. Entah kenapa, saya yang saat itu diamanahkan sebagai ketua rombongan, bisa membantu jamaah sekuat tenaga, dan saya juga bisa menyelesaikan ibadah saya dengan baik. Semoga sempurna dihadapan Allah!. Bayangkan saya sempat melakukan ibadah ritual di gua hira malam-malam, bahkan saat tawaf, tujuh kali mutar, tujuh kali juga cium Hajar Aswat. Anehnya, saya dapat kemampuan membantu orang yang sakit. Artinya saya jadi dukun saat itu, ha..ha..”
Sampai di tanah air, profesi ‘dukun’ mulai melekat di masyarakat. “Saat itu saya tinggal di Tanah Abang, silih berganti orang datang berobat, atas izin Allah sembuh juga. Tapi kemudian saya sadar, kok saya jadi dukun, padahal saya ingin mengabdi di negeri ini. Saya salah, ha..ha..ha…namun yang pasti jiwa saya menjadi tenang”.
Pergulatan bathin antara keinginan untuk membesarkan Butuni dengan posisi sebagai PNS dengan job yang tidak terlalu strategis terus bergolak, pada akhirnya ditahun 2000 memilih mundur sebagai PNS tanpa pensiun. Pilihannya ikut partai, meski sebelumnya beberapa tahun saat bestatus sebgai PNS sudah ‘curi-curi pandang’ dengan partai tertentu. Inilah awal pencarian Halaka menjadi sosok yang mulai dihitung pada belantika perpolitikan Sulawesi Tenggara. Namunya pun terus melambung sebagai seorang calon pemimpin masa depan.
“Saya ke Jakarta sempat tanya kepada beberapa perwira TNI saat itu. Saya Tanya pak Sulatin, saya tanya Ma’ruf (Mantan Mendagri), bertanya kepada pak Tamlica Ali, dan bertanya kepada beberapa tokoh sipil saat itu. Kata saya, “suksesi kepemimpinan di Buton sejak awal 2000-an, itu masih proyek ABRI atau sudah masuk ranah proyek sipil? semuanya menjawab, itu sudah proyek sipil!.
“Saya pun kemudian masuk mencalonkan diri sebagai calon Bupati Buton, termasuk menjadi calon Walikota Baubau, dimana saya berhadapan dengan Kanda Amirul Tamim. Saya kalau tipis, dan saya ikhlas!” Lima tahun, Kanda Amirul, telah berbuat yang terbaik kepada negeri ini. Makanya saya bersedia saja ketika kami sepakat untuk memimpin negeri ini di tahun 2008-2013. Sebagai Wakil Walikota, saya ingin menjadi wakil Walikota yang baik dan benar, itu sudah cukup!.
Drs H. La Ode Moch. Halaka Manarfa meninggal dunia di Jakarta pada hari Jumat , tanggal 14 Agustus 2009. Halaka meninggalkan seorang istri, Ny. Wa Ode Gustini, dan dua putri yakni Wa Ode Mufriha Halaka, SH dan Wa Ode Maya Maisarah Halaka.









