Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau lebih dikenal dengan gelar Oputa Yi Koo bagi masyarakat Buton sudah tidak asing lagi karena pada zamannya dikenal sangat gigih berjuang untuk menghadapi penjajah baik itu Portugis, Perancis maupun Belanda yang ingin menjajah di bumi Kesultanan Buton. Hanya saja, untuk tingkat nasional, Himayatuddin belum mendapatkan pengakuan sebagaimana pahlawan-pahlawan nasional lainnya di Indonesia. Padahal, saat menjabat sebagai Sultan Buton, Himayatuddin merupakan salah satu Sultan Buton yang menentang keras bekerja sama dengan kolonial, apalagi merugikan rakyatnya.
Karena kegigihannya melakukan perlawanan terhadap kolonial tersebut maka Pemkot dan masyarakat Baubau sejak tahun 2008 yang lalu telah mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui kementerian sosial agar Himayatuddin menjadi salah satu pahlawan nasional karena jasa-jasanya tersebut. Hanya saja, ada kekurangan-kekurangan dalam pengusulan itu terutama kajian akademis sehingga Pemkot Baubau membentuk tim yang diketuai Susanto Zuhdi guna melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan. Teranyar, telah digelar seminar nasional pengusulan Sultan Himayatuddin Dari Buton Provinsi Sultra Sebagai Calon Pahlawan Nasional RI di aula kantor Walikota Baubau Palagimata Minggu (17/7)/
Walikota Baubau Drs H MZ Amirul Tamim M Si mengatakan, Sultan Himayatuddin sangatlah wajar diusulkan menjadi pahlawan nasional mengingat Himayatuddin merupakan tokoh yang punya catatan sejarah melakukan perseteruan dengan kolonial. Dalam konteks perseteruan tentu lawan melakukan konsep strategi perseteruan dan ini cukup diperhitungkan jika merupakan perlawanan besar.
Dari kondisi Kesultanan Buton yang dikenal dengan istilah 1000 benteng yang dibuktikan dengan benteng yang ada di Kota Baubau sekarang ini dapat pula diartikan ada yang dipertahankan dan juga ada yang ingin direbut. Bahkan, sekitar 5000 orang yang dimobilisasi dari penduduk yang ada di sekitar Kesultanan Buton pernah melakukan perlawanan. Sehingga, dengan bukti-bukti ini sudah sangat kuat bila Himayatuddin sangat wajar jadi pahlawan nasional,"ujar Amirul Tamim.
Semangat dan keteladanan yang ada dalam diri Himayatuddin tambah pemimpin nomor satu di Baubau ini patutlah diberikan apresiasi karena keinginannya untuk negeri Buton tidak dijajah oleh kolonial. Oleh sebab itu, bagi Pemkot Baubau pengusulan Himayatuddin menjadi pahlawan nasional sudah tidak ada masalah lagi termaksud Gubernur Sultra H Nur Alam SE yang telah mengeluarkan rekomendasi untuk pengusulan Sultan Himayatuddin jadi pahlawan nasional.
Sementara itu, sejarawan nasional Anhar Gonggong yang ikut hadir dalam seminar nasional pengusulan Sultan Himayatuddin jadi pahlawan nasional mengakui proses pengusulan Himayatuddin setelah seminar ini memakan waktu sekitar 4 bulan di Kementerian Sosial. Kemudian, hasil dari Kementerian Sosial ditandatangani Menteri Sosial dan selanjutnya dikirim ke presiden RI melalui dewan tanda-tanda kehormatan yang akan menyeleksi. Karena itu, pemerintah dan masyarakat harus siap mental bila hasil seleksi tim yang dibentuk kementerian sosial berbeda dengan hasil yang dikeluarkan oleh presiden.
Hal senada diungkapkan Susanto Zuhdi peneliti UI dan Mona Lohanda dari Arsip Nasional RI. Bahkan, baik Susanto maupun Mona Lohanda mengungkapkan ada nuansa politiknya dalam pengusulan pahlawan nasional. Sehingga, untuk memuluskan langkah Sultan Himayatuddin menjadi pahlawan nasional maka kuncinya adalah istana negara. LAY
- Jum'at, 22 April 2011Nur Alam Buka Kejurda Lemkari Sultra
- Rabu, 28 Januari 2009Amirul Tamim Pimpin Konwil VI APEKSI
- Sabtu, 28 Mei 2011Dirut PLN Jamin Tetap Bangun PLTU di Baubau
- Selasa, 28 September 2010Kwarcab Baubau Raih Juara 2 Lomba Menu Khas Daerah
- Kamis, 28 Oktober 2010Hari Sumpah Pemuda Picu Inspirasi dan Motivasi










