Mesjid Keraton
Mesjid ini didirikan tahun 1538 M, dalam Mitos masyarakat Wolio pada masa kesultanan di mesjid ini Selalu terdengar Suara Adzan Shalat Jumat dari Mekkah
PERTAMA kali dalam sejarah, HUT Sultra digelar diluar ibu kota provinsi, dan Baubau yang dipilih. Menariknya, Pemkot tidak memusatkan acara di lokasi sudah siap, tapi memilih Kotamara, kawasan strategis di daerah pesisir yang sementara dibangun. Apa targetnya? Berikut ini wawancara wartawan Radar Buton Irwansyah Amunu kepada Walikota Amirul Tamim.
Apa target Pemkot Baubau yang memusatkan HUT Sultra di Kotamara?
Kita pilih pusat kegiatan di Kotamara, diharapkan kegiatan HUT Sultra di Baubau ini tidak hanya berlangsung seremoni, berdampak sementara, hanya kemeriahan sementara. Tapi kita harapkan diselenggarakan di Baubau punya manfaat berkelanjutan terhadap Kota Baubau.
Olehnya itu, dari sekian tempat yang ada, kita berpikir kalau tempat-tempat tertentu yang sudah ada kita letakkan disitu akhirnya hanya bersifat sementara. Suasana meriahnya sekadar pada hari itu juga. Tapi kita harapkan HUT Sultra selesai, masih ada rangkain-rangkaian manfaat atau dinamika bergulir, oleh sebab itu kita pusatkan di Kotamara.
Dari kubangan, laut pesisir kawasan kumuh itu dengan momentum ini berubah, menjadi kawasan bernilai ekonomi. Kemudian yang tak tenilai amannya masyarakat di pesisir itu sendiri dari ancaman gelombang setiap tahun mereka rasakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sekian tahun selama ini. Dengan hadirnya HUT Sultra ke-47, sama ditandai berakhir pula rasa kekhawatiran selama ini, itulah yang tak ternilai bagi masyarakat kita.
Ikutannya dari itu semua, Kotamara setelah HUT Sultra merupakan satu titik yang akan menghubungkan kawasan Wale dengan Mameo. Jadi kita tahu Wale adalah satu magnet ekonomi bagi Kota Baubau. Tentu kasawan Wale dengan Jembatan Batu, Umna, Pantai Kamali, kawasan pertokoan, La Elangi-nya berada pada ambang titik jenuh, sementara skala ekonomi Baubau sudah berkembang. Dan kita memang arahkan skala ekonomi Baubau tidak hanya berskala lokal atau sebatas pada daerah-daerah belakang dalam wilayah Sultra atau Buton Raya.
Kita harapkan skala ekonomi bergerak sampai pada lintas region Sulawesi, kita punya potensi posisi strategis, arus orang dan barang dari Baubau ke tempat-tempat yang kita rencanakan atau arahkan yaitu Papua, Maluku, Sultra, Nusa Tenggara, dengan sendirinya harus kita tangkap.
Tidak hanya orang berpindah begitu saja, pergi mencari kerja, tapi bagaimana sebentar bergerak orang ini punya visi ekonomi, ketika dia menuju satu titik harus bawa potensi yang kita miliki disini dan bawa pulang yang ada disana untuk direkayasa ulang, atau diberi nilai tambah lebih sehingga akan menjadi rantai ekonomi yang kuat.
Faktor pendukung sudah dimiliki Baubau, ada terminal suplai BBM, lapangan terbang sudah tiga maskapai penerbangan. Dengan tiga maskapai penerbangan, sudah lima sampai enam kali setiap hari penerbangan ke Baubau. Tidak tertutup kemungkin kedepan dengan potensi yang kita miliki, dalam satu atau dua tahun kedepan akan lebih dari 10 kali dalam sehari penerbangan yang masuk di Baubau, peluang ini kita tangkap sebagai satu kekuatan.
Kemudian kita punya pelabuhan, pada tahun ini akan diperpanjang lagi, berarti kita harus menjemput tahun 2012 dan selanjutnya. Kekuatan inilah yang kita harapkan, maka dua titik Wale dan Wameo harus kita sambung, dan ini peran Kotamara.
Mengantisipasi ini kita sudah lihat, coba cermati orang yang bergerak, banyak wajah-wajah baru, berarti ada investasi masuk. Ada yang besar, skala kecil, yang kecil ini jumlah populasinya banyak, berarti kalau dihimpun investasi yang masuk di Baubau dua tahun terkhir besar sekali.
Untuk itu, agar agar tidak terjadi capital flight, maka kita harus membuat titik gerak ekonomi Baubau sehingga uang beredar di Baubau lebih besar.
Dengan demikian infrastruktur harus dibangun. Maka itu akan dibangun Taman Prestasi di pesisir Kotamara. Kemudian tahun ini juga membangun Rusunawa baru lagi, dua blok untuk memberikan peluang bagi masyarakat kita yang tidak punya rumah atau kontrak-kontrakan selama ini. Sehingga ketika mereka punya tempat tinggal hunian bertaraf seperti Rusunawa, tidak pusing lagi terhadap pemukimannya. Berarti arah potensi yang dimiliki bagaimana mengelola ekonomi keluarga, dengan sendirinya mengelola sumber daya di Baubau.
Inilah yang kita harapkan. Nilai tambah yang besar tentunya dengan momentum HUT Sultra, sekaligus kita jadikan Baubau sebagai daerah yang bisa menyuplai secara ekonomis untuk barang kelontong dan garmen, seperti pakaian dan sebagainya. Kita jadikan 2011 Baubau yang akan menyuplai, kita launching pasar Grosir di Umna Wolio Plaza.
Jadi orang disekitar kawasan baik di Buton Raya, Sultra maupun Maluku mengambil barang di sini. Saya sudah berdiskusi dengan beberapa pengusaha-pengusaha di Baubau, bulan Agustus, insya Allah tanggal 19, kita akan launching juga galeri untuk elektronik. Ini akan jadi pusat Galeri Elektonik yang ditempatkan di Baubau dan bakal menyuplai daerah disekitarnya sampai Maluku, Nusa Tenggara, Sulteng, dan Sultra secara keseluruhan.
Bisa disuplai dari sini, didukung pengusaha. Memang, memilih Baubau sebagai pusat akan memberikan keuntungan ekonomi, karena pertama, Baubau sudah diikat jalur moda trasportasi yang representatif, pelabuhan yang memadai, jangkauan pesawat setiap saat kita bisa memilih waktu, apakah pagi, siang atau sore, tentu ini memberikan pelung dan kemudahan yang lebih besar.
Kemudian Jalur transportasi darat sudah bisa diikat, mudah-mudhan Tampo-Waara tahun 2011, 2012 sudah bisa mulus, sehingga ini menjadi rantai ekonomi yang lebih memberikan peluang suplai barang, dan sebagainya.
Sehingga kita mengajak dan inginkan mastarakat Baubau membuka mata, bahwa momentum HUT Sultra bukan sekadar hura-hura, tapi momentum untuk menangkap peluang. Kita adalah titik kawasan yang mampu berbicara dan mengambil peran ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Itu yang kita harapkan.
Bagaimana caranya memberikan penyadaran kepada masyarakat dan merekayasa keadaan supaya tidak hanya berlangsung secara alami?
Jadi memang kita tidak bisa lagi menyerahkan pada alam, tapi bagaimana merkayasa dalam suatu konsep yang terpadu melalui kajian akademis, dan bisa dilakukan secara teknis didukung aturan, tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan budaya kita, dan secara politis tidak akan merugikan siapa-siapa. Inilah yang kita terapkan selama ini,
konsep ini tidak hanya memberikan mafaat pada orang tertentu atau kelompok tertentu, tapi semua pelaku. Memberikan multiplayer efek mulai dari tukang ojek, pete-pete, taksi, para nelayan, pedagang, kaki lima, toko, kios, penjual jasa-jasa lainnya. Semua memberikan manfaat yang besar.
Oleh sebab itu, inilah yang kita harapkan, tidak hanya terjadi secara alami, tapi bagaimana kekuatan yang alami itu kita rekayasa jadi suatu konsep dan akan memberikan manfaat terhadap masyarakat.
Bukankah pembangunan Terminal Suplai BBM untuk kawasan Indonesia Timur diletakkan di Baubau? Apa kaitan peran Terminal Suplai yang berfungsi regional dengan posisi Baubau?
Justru itulah, bahwa sinyal kita dari sejarah pergerakan orang dan barang dari daerah ini, penempatan Terminal Suplai BBM, kemudian kita melihat Baubau dengan lapangan terbang yang kita usahakan selama ini. Bahwa lapangan terbang Baubau bukan lapangan terbang tujuan, tapi berperan sebagai lapangan terbang transit.
Buktinya sekarang dari Makassar-Baubau-Wakatobi-Kendari. Sebentar lagi Makassar-Baubau-Kendari, Kendari-Baubau. Sebentar lagi bagaimana dari Maumere masuk Baubau, dari Ambon masuk Baubau sehingga ini semua akan kita menjadikan Baubau jadi titik transit yang nanti secara bertahap pada konsep ini. Inilah yang akan menjadikan peran Makassar sebagian besar akan kita ambil pada masa-masa akan datang, tapi harus memulai dari sekarang.
Tidak bisa kita mengambil peran Makassar kalau kita tidak melakukan rekayasa mulai dari sekarang. Saya lihat rekayasa ini sudah jalan, saya hanya mengajak masyarakat jangan hanya segelintir, tapi harus ditangkap lebih besar lagi.
Dan ini harus dibaca mereka yang sementara duduk di perguruan tinggi. Jangan sampai waktunya di perguruan tinggi hanya bersifat sementara dengan hanya melihat dalam batas-batas idelisme sempit, tapi harus melihat mereka yang duduk di perguruan tinggi adalah sumber daya manusia yang akan berperan 10 atau 20 tahun akan datang. Jangan hanya terjebak pada idealisme sempit atau dimanfatkan oleh pragmatisme. Jangan seperti itu.
Bagaimana kekuatan pengusaha kita terhadap potensi dan peluang yang kita miliki?
Itulah kita harapkan, pelaku ekonomi kita jangan sampai puas dengan apa yang dia capai sekarang, tapi harus berobsesi untuk bisa menjadi pengusaha-pengusaha yang berskala lebih besar. Dunia perbankan kita cukup mendukung, untuk itu bagaimana memainkan peran, saya melihat dunia perbankan dengan pemimpin-pemimpin yang muda di bank-bank di Baubau adalah suatu suasana tersendiri. Untuk itu peluang ini bisa dimanfatkan pelaku ekonomi di Baubau.
Kotamara yang terbangun sekarang belum final dari grand design, apakah dengan daya dukungnya sekarang sudah kuat untuk dinamika ini?
Memang sekitar 26, 30 persen dari konsep totalitas Kotamara, dengan kondisi seperti itu saja sudah bisa memberikan dorongan dan rangsangan ekonomi bagi masyarakat. Karena dalam Tahun 2011 pasca-HUT Sultra kita akan membangun suatu taman yang kita namakan Taman Prestasi. Tapi didalamnya akan mendorong suatu aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
Seperti kita tahu bahwa Kotamara dulu lautnya adalah kawasan nelayan, pakai Koli-koli (sampan, red) memancing. Fungsi itu tidak akan hilang. Cuma sekarang tidak pake Koli-koli, tapi bagaimana dia duduk saja disepanjang Pantai Kotamara, bisa memancing seperti ketika berada diatas Koli-koli.
Karena tahun ini juga kita akan tanam rumpun laut dangkal. Lagipula kita sudah bisa menghentikan pencemaran laut dari pola pemukiman pesisir. Karena kita tahu, selama pola pemukiman pesisir membuat laut terkontaminasi. Semua limbah cair rumah tangga pesisir larinya ke laut. Ini kan merusak ekosistem laut sehingga plankton dan rantai laut pesisir rusak.
Tetapi dengan selesainya Kotamara, berarti rantai laut ini akan hidup kembali. Dan tentu rompon ikan-ikan itu akan hadir kembali di Kotamara. Dan itulah petensi sebagai areal pancing. Disitu akan ada penjual, penyewa-penyewa pancing. Dan hiduplah kehidupan Kotamara.(one.radarbuton@gmail.com)
- Kamis, 20 Mei 2010CPNSD Bau-Bau Mulai Bekerja
- Senin, 24 Januari 2011Klinik Murhum Berubah Status Menjadi Rumah Sakit Umum
- Kamis, 14 Januari 2010Walikota Bau-Bau dan Dubes Korea Selatan Bertemu di Jakarta
- Sabtu, 6 Desember 2008Bau-Bau Juara Lomba Keluarga Sehat Tanpa Narkoba
- Selasa, 22 Juni 2010Mengadri Membuka FPPM III dan Meresmikan Kantor Walikota









