
Kota Bau-Bau semakin menunjukkan eksistensinya sebagai Sentra Rumput Laut di Pulau Sulawesi dan sekitarnya, sebagaimana ditetapkan oleh Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) pada medio 2006. Eksistensi tersebut diperkuat dengan kunjungan 6 pengusaha dan akademisi dari Malaysia yang berniat membuka Pabrik pengolahan rumput Laut di Kota Bau-Bau dan kemudian disusul dengan kunjungan Dirjen P2HP Departemen Perikanan dan Kelautan.
Pertemuan Walikota Bau-Bau dan beberapa Kepala SKPD dengan tamu asal negeri jiran tersebut berlangsung di Ruang Rapat Palagimata pada hari Sabtu, 5 September 2009 dan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan di Sentra Rumput Laut Palabusa pada hari Minggu, 6 September 2009. Pada pertemuan awal, dibahas mengenai potensi Rumput Laut dan komoditi perikanan lainnya di Kota Bau-Bau dan kawasan sekitarnya.
Rumput Laut yang nama latinnya Euchema Cottonii dan Euchema Striatum, dan secara tradisional dikawasan Bau-Bau dan sekitarnya lebih dikenal dengan nama Garangga, dibudidayakan di kawasan ini sejak tahun 1987 dan menjadi salah satu sumber matapencaharian utama masyarakat pesisir di kawasan Kepulauan Buton, Muna dan Wakatobi, dengan total areal potensial untuk Budidaya sekitar 9.000 Hektar. (LA)
- Rabu, 29 Desember 2010Pemkot Serius Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak
- Selasa, 10 Nopember 2009Veteran dan Janda Peroleh Santunan
- Sabtu, 9 Juli 2011Petinju Baubau Berjaya di Semua Kelas
- Senin, 15 Nopember 2010Walikota Baubau Narasumber di Kementerian Dalam Negeri
- Selasa, 20 Juli 2010Posal Baubau Rebut Piala Menteri Kebudayaan dan Pariwisata









