Baubau Logo
Rekor Pemilik Benteng Terluas di Dunia dari MURI
Benteng didirikan abad XVI - XVII, sepanjang 2,74 Km dan tebal 1 Meter
Benteng didirikan abad XVI - XVII, sepanjang 2,74 Km dan tebal 1 Meter
Kecamatan
Dinas dan Instansi
 
Jum'at, 28 Agustus 2009
Kota Itu Ibarat Manusia

KALI Bau-Bau yang kumuh kini tinggal sejarah. Bau menyengat telah sirna. Warga di sekitarnya pun tak lagi menjadikannya tong sampah. Tak ada lagi pantai kotor, penuh dengan bangkai kapal, yang menyambut pendatang di Pelabuhan Murhum. Di antara serakan terumbu karang yang hancur akibat hantaman bom ikan, mulai tumbuh karang buatan. Pantai Kamali, yang dulu airnya keruh dan menjadi tempat pembuangan sampah pedagang kaki lima, kini jernih bak akuarium tempat bermain ikan. Bau-Bau bersalin rupa, dari kota yang kumuh menjadi bersih dan peduli lingkungan.

Pemerintah Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, memang menjadikan kebersihan lingkungan sebagai prioritas. Wali Kota Mazat Amirul Tamim mengandaikan Kota Bau-Bau sebagai manusia, dan lingkungan adalah paru-parunya. ”Bila rusak paru-paru, jangan harap kota akan sehat, apalagi memakmurkan penduduknya,” katanya. Berbekal analogi itulah sederet program prolingkungan dijalankan.

Apa prioritas utama Anda ketika mulai menjabat?

    Ada lima hal yang masing-masing tidak lebih penting daripada yang lain. Saya mengibaratkan kota ini adalah manusia. Jantung adalah ekonomi, urat nadi dan aliran darah sebagai jaringan jalan, otak sebagai sumber daya manusia, hati sebagai agama dan budaya, dan paru-paru sebagai lingkungan. Semua harus menjadi perhatian utama, karena bila salah satu rusak, kota akan mati.

Apa yang Anda lakukan untuk merawat paru-paru itu?

    Ketika saya baru menjabat, infrastruktur kota ini rusak, tata ruang terfokus pada satu titik, sehingga kota sumpek dan semrawut. Kali Bau-Bau, yang membelah dua kota, menjadi pusat kekumuhan. Kali kotor dan bau, sampahnya mengalir ke muara. Inilah yang pertama dilihat orang ketika merapat ke Bau-Bau.

Anda membersihkan sungai dengan konsep ”halaman depan”?

    Ya. Dulu, di sepanjang sisi sungai, hanya ada jalan setapak. Jalan setapak identik dengan warga ekonomi rendah. Mereka juga memiliki perilaku sosial yang rendah, misalnya buang sampah ke kali. Perilaku ini harus diubah. Kami buatkan jalan yang lebar, seperti di permukiman elite, sehingga mereka bangga dan secara tidak langsung mengubah perilaku. Karena jalan bagus dan lebar, mereka memutar arah rumah, dan kali menjadi halaman depan. Sekarang, warga sendiri yang menjaga kebersihan kali, tak mau halaman depannya kotor.

Pembangunan jalan pasti mengorbankan tanah warga.

    Betul. Tapi, karena kami beri penjelasan, termasuk manfaat ekonomis jalan ini, semua rela tanahnya terpotong setengah hingga satu meter. Saya tanya kepada mereka yang mulanya tak mau melepas tanah, ”Berapa harga tanahmu?” Mereka jawab sepuluh ribu rupiah. Saya katakan bahwa saya akan membeli dengan harga itu, tapi juga saya ingatkan, jika kelak harga naik, selisih harga dari tanah yang masih ia miliki menjadi hak pemerintah. Jika harganya 100 ribu, yang 90 ribu milik kota, karena kami yang membuat harga naik. Akhirnya semua ikhlas. Kini, anak-anak mereka bisa bermain di jalan. Mereka juga membuka warung.

Anda juga berhasil membersihkan pantai kota, yang kini disebut Pantai Kamali.

    Bila sungai bersih, laut akan bersih pula. Di pantai, kami membuat ruang publik yang sekaligus menjadi landmark kota. Pantai yang tadinya kumuh menjadi bersih. Pedagang kaki lima yang lusuh dan buang sampah sembarangan kini tampil rapi, mandi dulu sebelum berjualan, karena tempat mereka bagus dan bersih. Mereka tidak membuang sampah ke laut karena tahu bahwa laut yang bersih membuat orang betah berlama-lama di pantai dan pasti memesan makanan.

Pembangunan lingkungan harus dimulai dengan perencanaan tata ruang yang baik. Seperti apa konsep tata ruang Kota Bau-Bau?

    Kota menjadi sumpek dan semrawut karena terpusat pada satu titik, misalnya menjadi pusat pemerintahan sekaligus pendidikan dan hiburan. Tata ruang kota ini mengutamakan keseimbangan. Kami membangun kantor wali kota di luar daerah keramaian, di daerah tandus Palagimata. Kantor ini menjadi magnet untuk menarik permukiman karena sudah ada jalan dan listrik. Warga mulai membangun rumah, harga tanah naik, semua berkat investasi pemerintah.

Bagaimana nasib kota lama?

    Kami tak membiarkan kota lama menjadi mati. Itu sebabnya ada pembangunan ruang publik yang menjadi pusat keramaian. Di kota yang baru, tidak semua kantor pemerintahan berkumpul, tapi tersebar di beberapa wilayah, untuk menjaga keseimbangan tadi. Sebab, jika pusat perkantoran menjadi satu, pada malam hari semua fasilitas pendukung, seperti listrik, air, dan jalan, tak berguna.

 

Sumber berita :

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/17/LU/mbm.20090817.LU131162.id.html

Berita Lainnya