Patung Naga di Pantai Kamali
Saat pembangunan Patung Naga ini rembulan malam menerangi 7 malam berturut-turut
Saat pembangunan Patung Naga ini rembulan malam menerangi 7 malam berturut-turut
 
Sabtu, 21 Februari 2009
KAMPUA : Mata Uang Kesultanan Buton yang Tertua di Sulawesi

Dalam sejarah kerajaan Buton di abad - 14,  telah terjadi transaksi menggunakan  uang. Namanya mata uang Kampua, dan beredar hingga tahun 1951. Mata uang ini tercatat di museum Bank Indonesia (BI) sebagai mata uang tertua di Pulau Sulawesi. Kemarin (20/2), Kampua dipamerkan dalam pameran sejarah uang Indonesia di Aula BI Kendari.
   

    Sepintas mata uang Kampua  terlihat seperti pulau Buton  di peta. Padahal, Kampau terbuat dari tenunan serat kayu. Bentuk awalnya hanya berupa 4 jari tangan. Kemudian berubah diperbesar menjadi telapak tangan.          
    Mata uang Kampua dipastikan penggunaannya pada kerajaan Sultan Dayan yaitu, pada abad 14. Walaupun  pembuatannya pada kepemerintahan raja sebelumnya (tidak tercatat dalam sejarah). Kala itu  Kampua ini  ditenun oleh putri raja. Bentuk telapak tangan tersebut adalah telapak tangan menteri keuangan di kerajaan tersebut yaitu Menteri Boto Onggena.
    Kemudian, Kampua mulai diperkenalkan oleh Bulawambona, ratu pada kerajaan  Buton yang memerintah di tahun 14. Pertama kali nilai tukar satu mata uang sama dengan satu butir telur. Kemudian sesuai kondisi perekonomian nilainya pun berubah pula. Di kerajaan Sultan Dayan jugalah yang mengharuskan setiap transaksi untuk menggunakan mata uang Kampau. Nilainya, satu Kampua bisa ditukar dengan satu biji telur.
    Kemudian di tahun 1851, datanglah Kolonial Belanda menjajah pulau Sulawesi dan memasuki Buton. Kala itu Mata uang Kampua mulai tergusur dengan mata uang Golden milik Belanda. Namun hanya di daerah - daerah tertentu saja. Di daerah pelosok Buton Kampau masih digunakan untuk bertransaksi. Hingga akhirnya pada tahun 1951 mata uang Kampau ini diberhentikan peredarannya.
    Saat ini, Kampua berada di Museum BI Jakarta. Karena hanya satu - satunya keberadaan Kampua sangat dijaga, tidak diperbolehkan tersentuh siapapun. Dalam setiap pameran pun hanya bisa dilihat melalui duplikat gambarnya. "Tidak tahu kalau di Buton. Tapi saat ini BI hanya punya satu.Saat ditemukan sudah dimakan rayap, makanya keberadaannya sangat kami jaga," terang Ernawati Jatiningrum, Peneliti BI Jakarta yang dimintai keterangan tentang sejarah uang tersebut.
    Di Indonesia selain Kampua, masih ada mata uang yang lebih lama lagi penemuannya. Yaitu mata uang dari kerajaan Jenggala (Kediri). Namanya mata uang Krishnala dan ditemukan pada tahun 1222.  Mata uang Krhisnala bisa diperlihatkan aslinya karena terbuat dari emas bentuknya bulat seperti biji kacang tanah. Dan tidak akan rusak jika tersentuh tangan. Di tengah Krhisnala terdapat lubang untuk memasukkan benang alat menyatukan uang yang satu dengan lainnya. "orang zaman Jenggala membawa uang ini diikat pada pinggang," katanya. (Kendari Pos, 21 february 2009)

 

Berita Lainnya