Pelabuhan Bongkar Muat Barang
Sepanjang 2006 volume bongkar barang mencapai 217.196.308 ton dan muat barang sebanyak 94.479.908 ton
Kota Bau-Bau sejak dibentuk pada tahun 2001 sebagai salah satu daerah otonom di Sulawesi Tenggara dibawah kepemimpinan Walikota Bau-Bau Drs. MZ. Amirul Tamim, M.Si, mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik. Karenanya berbagai torehan prestasi di torehkan kota ini baik dalam skala regional maupun nasional. Beberapa prestasi tersebut diantaranya;
a. Runner Up penataan kota terbaik di Indonesia pada tahun 2006
b. Peraih kota Manggala Karya Kencana 2004
c. Penghargaan Satya Lencana Wirakarya bidang keluarga Berencana nasional 2007
d. Peraih Rekor MURI sebagai kota pemilik benteng terluas di dunia
e. Penghargaan Pemprov. Sultra sebagai Kota tercepat dalam geliat pembangunan 2007
f. Penghargaan Satya Lencana Wirakarya bidang Koperasi tingkat nasional 2008
g. Kota Koperasi Teladan tingkat Nasional 2008
h. Penerima Bintang Melati dari Presiden RI sebagai Tokoh Gerakan Pramuka 2008
i. Empat tahun secara berturut-turut sebagai pelaksana Gerakan PKK-KB-Kesehatan tingkat Propvinsi Sulawesi Tenggara.
Namun dalam perjalanannya kebijakan penerapan pembangunan yang digencarkan Walikota Bau-Bau MZ Amirul Tamim menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Hal ini karena proses pembangunan di kota Bau-Bau selalu berpihak pada masalah-masalah lingkungan. Jika diurai mungkin sederhana, tapi jika diteliti secara seksama, kebijakan yang dilakukan pemerintahan Amirul Tamim, layak dijadikan contoh bagi pengembangan kota-kota lainnya di Indonesia.
Beberapa kebijakan yang dimaksudkan diantaranya:
a. Program Menjadikan Laut sebagai Halaman Depan.
Program ini dicanangkan Walikota Bau-Bau sejak tahun 2005 silam, dengan mengambil potensi wilayah laut Kota Bau-Bau yang sangat indah dan bersih. Awalnya, penduduk Kota Bau-Bau, membangun rumah dengan membelakangi laut, sehingga view kota menjadi sembrawut.
Secara perlahan program ini dijalankan, alhasil sejak tahun 2007, sejumlah perumahan penduduk yang sebelumnya ‘membelakangi’ kini ‘menghadap’ ke laut. Hasilnya, jadilah laut sebagai halaman depan yang terjaga kebersihannya. Bahkan di beberapa kawasan seperti Pantai Kamali dan Pelataran Wantiro, laut dijadikan sebagai ruang publik kota Bau-Bau. Kota Bau-Bau pun dari kejauhan khususnya bagi perajalanan kapal-kapal PELNI yang menyinggahi Kota Bau-Bau, tampak sebagai kota yang sangat cantik dan terjaga keasriannya.
Dengan demikian industri pariwisata laut pun tumbuh dengan sendirinya. Di beberapa kawasan perairan dalam teluk Bau-Bau dapat dijumpai wisata banana boat, parasiling, jetsky, glass bottom boat dan lain-lai.
b. Program Kali Bersih dan Indah.
Bukan hanya lautnya yang indah, keberadaan sungai (kali) Bau-Bau yang membelah kota ini pada beberapa waktu silam, menjadi ‘tempat penampungan sampah terbesar’. Kini Kali Bau-Bau yang disentuh dengan kebijakan Walikota Bau-Bau, agar memanfaatkan kali ini juga sebagai ‘halaman depan’, yang diik uti dengan program pembersihan kali secara berkala oleh Pemerintah Kota Bau-Bau. Bahkan disepanjang tepian kali dibangun permanen tembok penyanggah dengan relief kebutonan, yang menjadikan Kali Bau-Bau juga sebagai salah satu objek wisata perairan di kota ini, seperti lomba Perahu naga dan lain sebagainya.
c. Bangunan Baru 2 Pohon, Menikah 2 Pohon
Kebijakan unik lainnya soal kepedulian pada lingkungan, yakni jika ada yang mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Pemkot Bau-Bau, maka pihak pembangun akan dikenakan ‘syarat’ khusus berupa penanaman 2 pohon di kawasan sekitarnya. Demikian halnya dengan calon pasangan mempelai yang ingin melangsungkan pernikahan juga ‘dibebani’ untuk dapat menanam 2 pohon tumbuhan keras. Hal ini dimaksudkan agar kelestarian lingkungan tetap terjaga dengan baik, yang diikuti dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan alam disekitarnya.
Begitu pedulinya pada keberadaan pohon, Walikota Bau-Bau Amirul Tamim mengatakan; “Apapun yang kita bangun, jangan pohon yang ditebang, lebih baik bangunan yang mengalah. Ingat membangun sebuah bangunan besar butuh waktu paling lama 3-5 bulan, tapi menunggu tanaman menjadi pohon besar, butuh waktu puluhan tahun, jadi pohon jangan dikorbankan” katanya.
d. Penanaman Karang Buatan dan Mangrove
Untuk menjaga kelestarian Biota laut yang dimiliki Bau-Bau, maka Pemkot Bau-Bau juga telah melakukan penanaman karang buatan dan Mangrove, yang dimaksudkan agar laut Bau-Bau tetap potensial sebagai kawasan yang dapat menyuplai kebutuhan perikanan masyarakat. Dan selain itu keberadaan terumbu karang Bau-Bau tetap terjaga keasriannya, sehingga predikat Bau-Bau sebagai Kota Wisata tetap terjaga dengan baik.
e. Penyediaan Sarana Air bersih
Beberapa tahun silam, Kota Bau-Bau dikenal sebagai kota yang suplai ‘kebutuhan air bersihnya tidak cukup. Namun geliat pembangunan yang dijalankan Walikota Bau-Bau, kini mengalami perubahan berarti, sarana air bersih pun tercukupi diamana-mana. Hal digencarkan dengan terbentuknya PDAM Tirta Semerbak yang telah mampu melayani suplai air bersih di seluruh kecamatan dalam wilayah Kota Bau-Bau.
Lebih menarik lagi, karena beberapa ‘stasiun pengelolaan air bersih di kota ini juga dilengkapi dengan mekanik yang bekerja untuk menyediakan ‘air bersih siap minum’. Khusus daerah yang belum tersentuh jaringan pipa PDAM dilayani dengan Water Mobile yang dapat dipesan langsung oleh masyarakat. (zah/inkom)
- Jum'at, 8 Oktober 2010Baubau-Korea Tandatangani Kesepakatan Kerja Sama Bidang Pertanian
- Minggu, 18 Juli 2010Puluhan Ribu Massa Meriahkan GJS IKA Unhalu
- Kamis, 3 Februari 2011Direktur Pemasaran Pertamina Tinjau Terminal BBM Baubau
- Kamis, 4 Desember 2008Walikota Support PKL dan Asongan
- Rabu, 16 Desember 2009Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan Akan Dioperasikan








