Baubau Logo
Benteng Baubau
Benteng terluas di dunia
Benteng terluas di dunia
Kecamatan
Dinas dan Instansi
 
Selasa, 21 Oktober 2008
Wawancara : "Intinya Kesejahtraan, bukan melepas diri"

 Puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) Kota Baubau ke-7 dilakukan kemarin (17/10). Bagi Wali Kota Baubau, MZ Amirul Tamim, yang telah enam tahun dipercaya rakyat untuk menakhodai Kota Baubau tentu memiliki catatan sendiri. Sebab, begitu dilantik sebagai wali kota Baubau di periode pertama tanggal 6 Januari 2003, ia langsung mengemas potensi dan letak strategi Kota Baubau yang begitu dasyat, karena didukung daerah belakangnya yang mempunyai potensi besar. Juga didukung oleh letak geografi yang menghubungkan barat dan timur, yang ditandai dengan sejarahnya yang dikenal memiliki peran-peran yang sangat besar.
"Baubau kalau dikembangkan secara terkonsep, dengan perencanaan yang baik tentu mempunyai locatan yang cukup tinggi. Belum lagi kalau melihat Baubau dari sisi SDM, mengingat Baubau dihuni oleh berbagai kekuatan kelompok etnis, maka tentu merupakan kekuatan sendiri bagi Baubau," kata Amirul Tamim kepada Sawaluddin Lakawa dari Kendari Pos yang mewawancarainya di rumah jabatan (Rujab) wali kota, awal pekan ini.
Olehnya itu, agar Baubau bisa memainkan perannya sesuai dengan karekter dan potensi yang dimiliki, maka putra Baubau kelahiran 18 September 1954, ini memberikan perhatian terhadap penggunaan ruang Baubau. Bila enam tahun lalu, penataan ruang Baubau hanya pada satu dua kawasan, maka di bawah polesan suami Yusni Amirul, Baubau lalu dibagi dalam enam bagian wilayah kota, dengan fungsi-fungsi utamanya dan fungsi-fungsi penunjangnya masing-masing. Kemudian, menunjang fungsi-fungsi itu lalu diikat dengan jejaring fasilitas pendukung seperti jalan. Icon kota pun dibangun sebagai sebagai magnet penariknya, dengan berbagai fasilitas kemudahannya. Selanjutnya, pembangunan infrastruktur sosial yang bisa mengikat dengan bagian wilayah belakang Baubau pun dilakukan. Pembenahan wilayah belakang Baubau diperkuat dengan membangun jalur keluar masuk wilayah Baubau yaitu, dengan melihat arus ke Pasarwajo, akses ke Kapontori dan Batauga dari sisi darat. Demikian pula akses fungsi lautnya pun dibenahi, sehingga akses keluar masuk Baubau, baik secara basional, regional dan lokal berlangsung lancar.
Langkah Amirul memimpin Baubau di periode pertama ternyata mendapat apresiasi yang begitu besar dari rakyat. Pelaksanaan pemilihan langsung wali kota Baubau tahun 2007, Amirul Tamim kembali dipercaya rakyat untuk memimpin Baubau diperiode kedua. Dalam lima tahun ke depan apa saja yang akan dilakukannya. Berikut petikan wawancaranya;
Selama enam tahun terakhir ini Anda dipercaya rakyat memimpin dan membangun Kota Baubau, bagaimana pencapaiannya apakah telah sesuai yang diharapkan?
Alhamdullilah, berbagai program pembangunan, termasuk penataan kota dalam enam BWK telah terwujud. Kita juga telah perkuat dalam jalur jalan yang alhamdullilah semua sudah diaspal. Sedangkan ada beberapa bagian lain kita harapkan agar memasuki usia Kota Baubau ke-8 tahun 2008 ini semuanya bisa selesai. Kemudian dari situ kita lihat bahwa, ruang ekonomi tidak boleh terkosentrasi pada satu titik kawasan. Kita harus membuat satu konsep bahwa, ruang Baubau harus seluruhnya mempunyai dimensi ruang ekonomi. Olehnya itu, dengan konsep yang berjalan sekarang ini alhamdullillah bahwa semua sudut Baubau mempunyai ruang potensi ekonomi yang dimanfaatkan masyarakat secara umum untuk bisa mengakses aktifitas-aktifitas ekonominya. Ini juga mulai sudah terwujud. Sambil kami melihat keseimbangannya, karena bagaimana pun pesatnya pembangunan kalau tak diseimbangkan nanti kehilangan jati diri. Kehilangan karekternya.
caranya?
Kita mengangkat dan memfasilitasi suatu aktifitas yang berdimensi budaya dan adat istiadat di Buton dan Baubau tetap bernuansa Islami. Terkait mayoritas penduduk yang Islami di sini kemudian dengan adat budaya seperti itu lalu dikemas sebagai salah satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan konsep pembangunan Baubau dari aspek ruang, ekonomi, sosial, dll. Dengan begitu, peran apa pun yang dimainkan Baubau ke depannya, konteks jati dirinya akan tetap menjadi perekatnya. Jadi, daerah ini akan tetap sinergi dengan kawasan sekitarnya, bagaimana pun peran-peran itu dimainkan.
Tahun 2008 ini apa yang dilakukan dalam menata Baubau agar bisa berperan sesuai yang diharapkan?
Kalau lima tahun yang lalu kita ingin jadikan Baubau sebagai pintu gerbang ekonomi dan parawisata Sultra.
Apa itu tercapai?
Ya, itu tercapai. Ada pun indikatornya terlihat dari sisi pintu gerbang ekonomi, sisi arus barang, bongkar muat, dll, telah memperlihatkan indikator-indikator dari peran itu. Kemudian daya layanan Buabau hari ini kelihatannya sudah kembali sesuai dengan peran-peran masa lalunya. Seperti bagaimana daya layanan Baubau dalam arus barang atau dari sisi ekonominya, kini sudah sampai ke Pulau Buruh, di beberapa Irian, Sulteng, dan beberapa daerah belakang di luar Bau-bau itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, komuditas ekspor dari Baubau itu telah disuplai dari daerah-derah belakang itu. Demikian juga dari sektor perbankkan yang begitu pesat majunya, baik dari segi jumlah Bank yang bertambah, mau pun kalau menengok DPK dana pihak ketiga diperbankkan. Transaksi Bank di Baubau juga cukup tinggi. Tahun lalu misalnya, saat kita membuka bank kliring, Kota Baubau termasuk urutan ke 50 dari hampir 500 Bank di Indonesia. Ini tentu merupakan salah satu indikator bahwa daerah ini sudah menjadi pintu gerbang ekonomi.
Lantas bagaimana lima tahun kedepan?
Lima tahun ke depan kita ingin menjadikan Baubau ini sebagai kota budaya yang produktif. Tentu dari potensi-potensi yang kita miliki tadi bahwa, setiap aktifitas itu harus memiliki nilai tambah. Karenanya, tiga pilar harus kita atur sedemikian rupa yakni, pilar pemerintahnya, masyarakat, dan potensi sumberdaya alam yang merupakan anugrah Illahi. Langkah-langkah konkritnya lima tahun mendatang kita akan tetap memperkuat akses Baubau, seperti pelabuhan dan lapangan terbangnya menjadi lebih besar dari kapasitas yang ada. Kemudian beberapa fungsi-fungsi ruang Kota Baubau yang tadinya di satu titik, katakanlah stadion kita akan geser ke satu kecamatan yang merupakan kota satelit yang berada pada kawasan Kolese, Lowulowu,Kalialia, dan Palabusa sebagai pemekaran dari Kecematan Bungi. Kita juga tetap mendorong pengembangan kota pada daerah-daerah yang kritis, untuk menghindari pengembangan kota pada daerah-daerah yang subur dan potensial. Karenanya, kita arahkan ke Betoambari yang mengarah ke Batauga sana. Tentu ini harus didukung dengan bagaimana kebijakan-kebijakan tahunan dalam bentuk jalan, fasilitas-fasilitas air bersih. Kemudian, pendekatan-pendekatan fasilitas sosial. Kalau pemukiman tumbuh, maka fasilitas sosial harus kita dekatkan seperti sekolah, dll, sehingga tingkat penyebaran penduduk nanti bisa seimbang.
Kota kita ini harus kita hindari seperti kota lain yang maju, tapi kota lamanya tertinggal atau ditinggalkan. Sementara, di kota lama itubanyak investasi masyarakat yang sudah tertanam. Agar investasi masyarakat tak mubasir, maka perencanaan kota ke depan harus menghindari hilangnya fungsi kota-kota lama. Caranya, menyiasati Baubauini dengan membangun kawasan penyeimbang yaitu, bagaimana kita tetap mendorong dinamika kota tumbuh ke arah Betoambari dan Sulaa, Batauga, tetapi kita harus imbangi dengan membangun kawasan satelit di arah sebaliknya yaitu, kecamatan pemekaran Bungi baik itu di Kecamatan Kolukuna maupun di kawasan kota satelit yang kita maksudkan. Ini maksudnya agar kota lama di Kewasan Wolio ini tetap eksis, sehingga masyarakat tak usah terlalu mubasir menggunakan modalnya yang sudah tertanam itu untuk menanamkan modal baru dalam bentuk tempat, dll.
Apakah daya dukung dari tiga pilar utama dimaksud cukup memadai dalam mewujudkan Buabau sebagai Kota Budaya yang produktif?
Memang betul, kita harus melihat tiga bagian atau tiga pilar utama yang meliputi pemerintah, masyarakat dan anugra Illahi berupa potensi sumberdaya alam. Pemerintah harus bisa` bersama-sama dengan masyarakat. Apa pun yang dilakukan oleh pemerintah harus bisa dipahami dandiperankan oleh masyarakat. Bila tidak, akan terjadi konflik-konflik dalam pengambilan keputusan. Olehnya itu tetap harus dijalin kebersamaan dengan masyarakat.
Pemerintah setiap membuat langkah kebijakan harus terencana. Tidakbisa, tiba masa tiba akal. Olehnya itu, langkah yang kita tempu sosialisasi kebijakan atau menggali potensi aspirasi masyarakat dalam bentuk partisipatif yang kita bangun, itu terus dilakukan. Saya pikir, konsep Bapak gubernur dengan Bahteramas yakni, bagaimana pelibatan masyarakat dengan memberikan block grant terhadap kelurahan dan desa,ini akan sejalan dengan langkah kita yang sudah dicanangkan di kota ini bahwa, setiap pengambilan kebijakan itu melibatkan masyarakat.
Masyarakat juga dalam hal merencanakan, atau menginginkan opsesisinya harus melihat kesinambungan. Tidak harus bahwa, apa yang ada semuanya harus diselesaikan dalam waktu dekat. Tapi, bagaimana agar bisa berkelanjutan agar bisa dirasakan manfaatnya oleh anak cucu kita dan sebagainya.
Semua potensi yang kita akan kelolah ini harus dilihat sebagai anugrah Illahi. Artinya, budaya dan agama harus dilihat sebagai pengikatnya.

Apakah mewujudkan kota budaya yang produktif ini terkait dengan kejayaan peradaban kesultanan Buton masa lalu?
Ya. Potensi Baubau sebagai pusat peradaban Kesultanan Buton pada masa yang lalu ini harus tetap kita revitalisasi, untuk mengembalikan daripada roh masyarakat dalam satu ikatan emosional, dimana saya katakan tadi roh budaya ini bernuansa Islami. Bebeberapa aktivitas yangkita lakukan kita padukan, dan setiap kegiatan yang kita lakukan pasti ada nuansa adatnya. Kemudian dalam prilaku keseharian, kita memakai busana yang diproduksi oleh masyarakat sebagai hasil kreasi masa lalu. Tentunya, sambil kita membekali aparatur agar tidak tertinggal dengan dinamika dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang ada. Tapi, bagaimana juga harus tetap tak kaku, bagaimana agar nilai-nilai budaya yang masih bisa relevan, itu yang menjadi perekatnya.
Perwujudan itu terlihat dalam iven tahunan senantiasa kita angkat suatu iven yang bernuansa budaya. Katakanlah di Kecamatan Bungi, Sorowolio, dan kegiatan-kegiatan budaya yang masih kental yang masih ada di pusat-pusat kota ini, tetap pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas.Merevitalisasi potensi Baubau sebagai pusat peradaban kesultanan Buton,
apakah untuk eksistensi Baubau dalam memainkan peran-perannya ke depanatau membangkitkan semangat Buton Raya?
Ya, itu yang kita sadari bahwa dalam hal kita membangun budaya ke depan sebagai roh kebutonan itu, tapi bukan berarti kita membangun kejayaan masa lalu dengan feodalismenya dll. Tapi, ada nilai-nilai yang kita kembangkan dalam rangka membangun masa depan. Bahwa, kesultanan Buton adalah merupakan suatu keberadaan yang harus kita akui bahwa, kita pernah jaya pada masa lalu. Pertanyaan selanjutnya, kenapa kita tak bisa berperan pada masa sekarang yang lebih luas. Olehnya itu kita coba merevitalisasi, mengembalikan roh kebutonan ini untuk bisa menyonsong hari esok dengan modal-modal yang kita miliki, sehingga nantinya menjadi suatu kondisi yang menjadi modal dasar bagi masyarakat Buton secara luas untuk membangun dirinya yang berarti tak terpisahkan dari bagian komunitas lain. Kalau ini tidak kita bangun, maka identitas dan jati diri masyarakat Buton ini bisa kehilangan arah.
Saya bisa contohkan, Kesultanan Buton itu bisa jaya karena mengandalkan kelautan dan maritim.Tapi, perkembangan Buton hari ini seakan-akan kita mengabaikan kemaritiman itu. Sumberdaya manusia kita banyak beroriantasi yang tak menyentuh maritim dan kelautan. Padahal, jati diri dan roh kita ada di situ. Kenapa bangsa-bangsa lain itu bisa maju, karena dia tak tinggalkan jati dirinya. Kita yang merupakan jati diri maritim seharusnya kita tak tinggalkan. Dulu Kesultanan Buton itu dikenal dengan armada semutnya, sehingga dia bisa mengikat seluruhkawasan di nusantara. Tapi, sekarang kita abaikan itu, sehingga boleh dikata armada semut sudah mulai hilang. Laut mulai kita jauhi. Padahal, potensi kita di situ. Itulah dengan mengembalikan roh Kebutonan dengan merangkainya dari mulai budaya, dsb, kita giring ke laut. Olehnya itu, kita menggelar festival perairan Pulau Makasar. Fetival Perairan Pulau Makasar ini akan mengungkap sejarah kenapa namanya Pulau Makasar. Bagaimana prosesnya, apa andil kesultanan Buton. Kemudian kenapa adaorang Buton di bagian nusantara lain. Berarti, ada kekuatan masa lalu yang harusnya tetap kita angkat kembali untuk menjadi kekuatan kita masa depan. Itulah kita mulai membuat festival Batu Puaro, di sana kita mengungkap dengan beberapa fraksi masyarakat budaya. Juga akan terungkap cerita kapan Islam dan bagaimana Islam bisa masuk di Buton ini. Kemudian akan terlihat peran-peran Buton masa lalu di bidang maritim dan kelautan. Olehnya itu, akan didukung dengan kebijakan-kebijakan kita bagaimana memperkuat laut dan mendorong sumberdaya manusia di bidang kemaritiman.
Apa ini bukan upaya memuluskan Buton Raya?
Dari situ kita harus melihat bahwa, kita pernah unggul dan keunggulan kita harus kita melihat dalam konteks jasirah. Olehnya itu berbarengan dengan semangat membangun suatu provinsi yang namanya Buton Raya, ini adalah merupakan kekuatan yang nanti bisa mengajak semua pihak, termasuk saudara-saudara kita di Sultra yang lain, untuk bagaimana mendorong provinsi Buton Raya ini yang memang sudah mempunyai kekuatan sendiri, yang meliputi jasirah yang mempunyai kekuatan masa lalu untuk mensejahterakan masyarakat.
Untuk kesejahteraan atau melepaskan diri sehingga punya gubernur sendiri?
Jelas intinya adalah kesejahteraan. Ini bukan eforia melepas diri, atau apa, tidak...tidak. Kalau eforia melepas diri saya kira tak seperti itu yang disikapi masyarakat Buton Raya. Ini terlihat dari proses perjuangan Buton Raya ini kan mulus betul, tidak ada konflik dengan yang lain. Kita lihat juga gubernur dan DPRD Sultra begitu mendorong. Ini berarti mempunyai pemahaman yang sama bahwa, Sultra ini kalau kita ingin ada percepatan untuk kemajuan berarti harus ada dua provinsi. (sawaluddin/KP)

Berita Lainnya